KUNCI MENJALANI HIDUP YANG BERMAKNA

  1. FAMILY

Awal kehidupan yang harmonis dimulai dari keluarga yang bahagia (A.happy life start from a harmonious family)

 2. LEADERSHIP

Jadilah seorang pemimpin jangan pengikut (Lead, don’t follow)

 3. PRACTICE

Ketekunan menghasilkan kesempurnaan, semakin banyak waktu yang diberikan untuk melakukannya, akan semakin mahir adanya (Practice make perfect)

 4. FAITH

Jika yakin, mantapkan langkahmu dengan pasti (Take the first step in faith. You don’t have to see the whole stair case, just take the first step)

 5. SOLUTION

Dengan cahaya penuntun, semua masalah dapat diatasi (With a guiding light, all obstacles will be overcome)

 6. BALANCE

Keseimbangan adalah kunci dari kehidupan (Balance is the key to life)

Categories: Uncategorized | Leave a comment

MODEL MODEL PEMBELAJARAN

Slide – Model Pembelajaran

Categories: Uncategorized | Leave a comment

PROSES SOSIAL YANG BERSIFAT DISOSIATIF

  1. 1.       Persaingan (competiton)

Persaingan adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik.

Konsepsi tersebut merupakan definisi persaingan dalam arti  yang “sehat”, dengan pola aturan main yang wajar. Dalam kenyataan masyarakat, terutama dibidang bisnis dan politik, sering kita temukan pola persaingan bebas yang “tidak sehat” dengan menghalalkan segala cara demi tercapainya kemenangan.

Persaingan memiliki fungsi yang dinamis yaitu:

  1. Menyalurkan daya kreativitas yang dinamis.
  2. Menyalurkan daya juang yang sifatnya kompetitif.
  3. Memberikan stimulus atau rangsangan dinamis untuk berprestasi  secara  optimal.
  4. Menyeleksi penempatan atau kedudukan sesorang dalam hierarkhi organisasi secara tepat sesuai dengan kemampuannya (the right man in the right palce).
  5. Menghasilkan spesialisasi keahlian  yang menghasilkan sistem pembagian kerja secara efektif.

 

Ruang lingkup persaingan meliputi berbagai bidang berikut ini:

  1. Sosial ekonomi, seperti bidang perdagangan.
  2. Sosial budaya, seperti bidang kesenian dan keolahragan.
  3. Sosial politik, seperti bidang pemerintahan dan organisasi politik.
  4. Keagamaan, misalnya di antara kelompok-kelompok atau sekte yang berlainan   paham keagamaannya.

 

Suatu persaingan diharapkan dapat menghasilkan:

  1. Perubahan sikap dan kepribadian yang makin mantap,
  2. Daya juang yang dinamis dan progresif,
  3. Timbulnya rasa percaya diri, dan
  4. Makin kokohnya solidaritas dan kebanggan kelompok.

 

  1. 2.       Kontravensi

Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok maupun terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai menjadi konflik.

Kontravensi memiliki lima bentuk yaitu:

  1. kontravensi yang bersifat umum, seperti penolakan, keengganan, gangguan   terhadap pihak lain, pengacauan rencana pihak lain, dan perbuatan kekerasan.
  2. Kontravensi yang bersifat sederhana seperti memaki-maki, menyangkal pihak lain, mencerca, memfitnah, dan menyebarkan selebaran.
  3. Kontravensi yang bersifat intensif seperti: penghasutan, penyebaran desas-desus, dan mengcewakan pihak lain.
  4. kontravensi yang bersifat rahasia seperti: mengumumkan rahasia pihak lain, berkhianat.
  5. kontravensi yang bersifat taktis, seperti: intimidasi, provikasi, mengejutkan pihak lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lawan.

 

Tipe-tipe umum kontravensi meliputi:

  1. Kontravensi yang menyangkut generasi, misalnya perbedaan pendapat antara  golongan tua dengan golongan muda.
  2. Kontravensi yang menyangkut perbedaan jenis kelamin, misalnya perbedaan golongan wanita dan golongan pria.
  3. Kontravensi parlemen, misalnya pertentangan golongan mayoritas dengan minoritas di masyarakat.

 

  1. 3.        Pertentangan atau Konflik sosial

Pertentangan atau konflik sosial adalah proses sosial antarperorangan atau kelompok masyarakat tertentu akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah di antara mereka. Upaya untuk memenuhi tujuan mereka dilakukan secara tidak wajar dan tidak konstitusional yang saling menjatuhkan.

Sebab-sebab munculnya konflik antara lain sebagai berikut:

  1. Perbedaan pendapat
  2. Perselisihan pahgam yang berkepanjangan yang mengusik harga diri serta kebanggan masing-masing pihak.
  3. Benturan kepentingan yang sama.
  4. Perbedaan sistem nilai dan norma dari kelompok masyarakat yang berlainan kebudayaan.
  5. Perbedaan kepentingan politik, baik dalam satu negara ataupun antarnegara.

 

Adapun bentuk-bentuk konflik atau pertentangan antara lain:

  1. Konflik pribadi, yaitu konflik antarindividu yang ditandai dengan rasa saling  benci terhadap pihak lawan.
  2. Konflik rasial, yaitu konflik yang terjadi karena adanya perbedaan ciri-ciri fisik kebudayaan. Misalnya pertentangan antara ras kulit putih dengan ras kulit hitam (negro).
  3. Konflik antarkelas sosial, konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antarkelas sosial, misalnya konflik antara majikan dan buruh.
  4. Konflik politik, misalnya konflik antarpendukung parpol dalam pemilu.
  5. Konflik internasional, pertentangan yang terjadi akibat perbedaan kepentingan antarnegara yang akhirnya menyangkut kedaulatan negara.

Pertentangan atau konflik jelas menimbulkan berbagai dampak, diantaranya adalah:

  1. Apabila suatu kelompok bertentangan dengan kelompok lain, solidaritas antarwarga kelompok biasanya bertambah erat. Mereka bersedia berkorban demi keutuhan kelompoknya.
  2. Apabila pertentangan antargolongan terjadi dalam suatu kelompok berakibat sebaliknya, yaitu retaknya persatuan dalam kelompok tersebut.
  3. Bentuk pertentangan yang terberat misalnya peperangan dapat menyebabkan penderitaan, dan jatuhnya korban baik benda dan jiwa.
  4. Apabila kekuatan-kekuatan pihak-pihak yang bertentangan seimbangdimungkinkan timbul akomodasi.

 

Pertentangan atau konflik merupakan proses disosiatif yang tajam, Namun walaupun begitu, sebagai asalah satu proses social, konflik dapat berfungsi pasitif bagi masyarakat. Adapun sisi positif konflik social adalah:

  1. Dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau belum tuntas dipelajari.
  2. Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma dan nilai-nilai serta hubungan social dalam kelompok bersangkutan sesuai dengan kebutuhan individu dan kelompok.
  3. Merupakan jalan mengurangi ketegangan antar individu dan kelompok.
  4. Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma yang baru.
  5. Dapat berfungsi sebagi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat.
Categories: Uncategorized | Leave a comment

LEMBAGA, KELOMPOK, DAN ORGANISASI SOSIAL SEBAGAI HASIL INTERAKSI SOSIAL

Karena adanya interaksi social antar individu dan kelompok maupun interaksi social antar kelompok, dimana mereka berinteraksi dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan hidupnya maka dalam masyarakat terbentuklah berbagai  lembaga, kelompok, maupun organisasi social.                                                                                                                                          Dengan demikian interaksi social merupakan syarat utama dalam penciptaan lembaga, kelompok social, maupun organisasi social dalam masyarakat.

  1. LEMBAGA SOSIAL

Pengertian lembaga social adalah seperangkat ketentuan, aturan, atau norma social yang sudah sedemikian mendalam(melembaga, internalisasi) sehingga keberadaannya disepakati dengan rasa tanggung jawab oleh seluruh anggota masyarakatnya (memasyarakat, institusionalisasi).

Lembaga social mengatur berbagai pola kehidupan tertentu dalam masyarakat. Missal  bidang keluarga dan kekerabatan, bidang keagamaan, bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang politik dan pemerintahan, serta bidang kesenian dan rekreasi.

Cirri-ciri Lembaga social menurut  JL. Gillin dan JP. Gillin

  1. Memiliki organisasi pola pemikiran dan pola perilaku yang terwujud melalui aktifitas-aktifitas kemasyarakatan serta hasil-hasilnya
  2. Memiliki tingkat kekekalan tertentu

Yaitu telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama ditengah masyarakat

  1. Memiliki satu atau beberapa tujuan tertentu
  2. Memiliki alat-alat perlengkapan yang digunakan dalam meraih tujuan lembaga tersebut
  3. Memiliki lambing-lambang
  4. Memiliki suatu tradisi baik tertulis maupun tidak tertulis

Fungsi Lembaga social

  1. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat dalam bersikap dan berprilaku berkaitan dengan kebutuhan pokok tersebut
  2. Menjaga keutuhan (integrasi social) masyarakat
  3. Memberikan pedoman dalam pengendalian social masyarakat

Proses pembentukan lembaga social

Proses yang dilalui dalam proses pembentukan lembaga social adalah sebagai berikut :

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia melakukan beberapa kebiasaan yang baku yang berlaku secara terus menerus dan diulang-ulang, akhirnya kebiasaan-kebiasaan tersebut dilegalkan  oleh masyarakat atau menjadi semacam norma.

Kemudian  Norma tersebut  mengalami proses institutionalization atau Norma tersebut tumbuh dan berkembang  menjadi lembaga,  dan pada akhirnya para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin berperilaku sejalan dengan norma yang berlaku atau norma-norma tersebut telah mendarah daging (internalized)

Tipe-tipe lembaga social

  1. Dari sudut perkembangannya :
    1. Crescive institution

Yaitu lembaga yang primer,merupakan lembaga yang tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat.

Contoh :  hak milik, perkawinan, agama

  1. Enacted institution

Yaitu lembaga yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tetentu, misalnya lembaga utang piutang, lembaga pendidikan, lembaga perdagangan

  1. Dari sudut  pandang nilai-nilai yang diterima masyarakat
    1. Basic institution

Yaitu lembaga social yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat.

Contoh :  keluarga, sekolah, Negara

  1. Subsidiary institution

Yaitu lembaga yang dianggap oleh masyarakat tidak penting, misalnya kegiatan-kegiatan untuk rekreasi

  1. Dari sudut pandang penerimaan masyarakat
    1. Approved (social sanctioned

Yaitu lembaga social yang diterima oleh masyarakat, misalnya :  sekolah, perusahaan dagang

  1. Unsanctioned institution

Yaitu lembaga yang ditolak oleh masyarakat walau kadang-kadang masyarakat tidak berhasil untuk memberantasnya, misalnya :  kelompok penjahat, pemeras, pemabuk

  1. Dari sudut penyebarannya
    1. General institution

Yaitu lembaga yang dikenal oleh hamper semua masyarakat di dunia, misalnya agama

  1. Restricted institution

Yaitu lembaga yang hanya dikenal oleh sebagian masyarakat saja, misalnya agama Islam, Kristen , Hindu, buda

  1. Dari sudut fungsinya
    1. Operative institution

Yaitu lembaga yang menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, missal :  lembaga industry

  1. Regulative institution

Yaitu lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat-istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian yang mutlak dari lembaga itu sendiri.

Contohnya :  lembaga hokum, yang meliputi kejaksaan dan pengadilan

  1. KELOMPOK SOSIAL

Sebagai makhluk social manusia akan selalu hidup dalam kelompok-kelompok tertentu . Hal ini karena  adanya kenyataan bahwa upaya manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya akan lebih produktif  diperoleh dalam kehidupan berkelompok. Kelompok terbentuk karena adanya hasrat dalam diri manusia itu sendiri.

Robert  Biersted menyebut adanya tiga criteria kelompok  yaitu :

  1. Ada atau tidaknya organisasi
  2. Ada atau tidaknya hubungan social diantara warga kelompok
  3. Ada atau tidaknya kesadaran jenis

Kelompok social adalah sekumpulan manusia yang memiliki persamaan cirri dan memiliki pola interaksi yang terorganisir secara berulang-ulang serta memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya.

Dasar pembentukan  kelompok social :

  1. Factor kepentingan yang sama (common interest)
  2. Factor darah dan keturunan yang sama (common ancestry)
  3. Factor geografis
  4. Factor daerah asal yang sama

Klasifikasi kelompok social

  1. Menurut cara terbentuknya :
    1. Kelompok semu terdiri dari kerumunan (crowd), massa, dan publik
    2. Kelompok nyata terdiri dari kelompok statistic, kelompok kemasyarakatan(societal), kelompok social, dan kelompok asosiasi
  2. Menurut erat longgarnya ikatan antar anggota , oleh Ferdinand Tonneis dibedakan menjadi dua yaitu :
    1. Gemeinschaft atau paguyuban
    2. Gesellschaft atau patembayan
  3. Menurut kualitas hubungan antaranggota
    1. Kelompok primer
    2. Kelompok sekunder
  4. Menurut pencapaian tujuan
    1. Kelompok  formal
    2. Kelompok informal
  5. Menurut pendapat Robert K.Merton
    1. Membership group (kelompok keanggotaan)
    2. Reference group (kelompok acuan)
  6. Menurut sudut pandang individu
    1. In group (kelompok sendiri)
    2. Out group (kelompok luar)
    3. Organisasi social

Organisasi social  adalah sebagai cara-cara perilaku manusia yang terorganisir secara social. Terorganisir secara sosial artinya karena adanya sekelompok individu yang merasa terikat oleh aturan-aturan tau adat istiadat tertentu yang mengatur kehidupan kelompoknya sehingga disebut kesatuan social

Contoh :  kesatuan social berdasarkan tingkat umur ada kelompok anak-anak, remaja, orang

tua

Kesatuan social yang bersifat sakaral karena ada ikatan suci keagamaan missal

jamaah (Islam), jemaat (Kristen)

Cirri-ciri organisasi social

  1. Bersifat langgeng
  2. Memiliki identitas kolektif yang tegas
  3. Memiliki daftar anggota yang terperinci
  4. Memiliki program kegiatan yang terus menerus diarahkan menuju tujuan yang jelas
  5. Memiliki prosedur untuk menerima anggota baru dan mengeluarkan anggota lama

Unsure-unsur pokok organisasi social

  1. Lembaga social , yaitu wadah organisasi yang mengurus dan mengatur berbagai kepentingan masyarakat
  2. Noma social, yaitu pedoman-pedoman pelaksanaan lembaga social yang penyusunannya dilakukan oleh lembaga yang berwenang pada setiap tingkatan
  3. Personal, yaitu para pelaku atau petugas untuk menjalankan roda pemerintahan Negara sebagai perwujudan dan system organisasi sosial
Categories: Uncategorized | Leave a comment

BENTUK INTERAKSI SOSIAL ASSOSIATIF

BENTUK BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Bentuk –bentuk interaksi social adalah sebagai  proses soal , dimana Interaksi social atau proses social  selalu mewarnai kehidupan masyarakat .  

HampIr setiap hari manusia melakukan interaksi social. sifat dan bentuk interaksi social itu bermacam –macam .  Dalam pelaksanaannya , interaksi social atau proses social itu dapat bersifat positif maupun negatif.  

Proses social yang berjalan sehat dan positif akan menghasilkan kerja sama. Sementara itu, proses social yang berjalan tidak sehat dan negative akan menghasilkan konflik social.

Menurut Kimball Young bentuk-bentuk proses social meliputi:

  1. Oposisi yang mencakup persaingan dan pertentangan/ pertikaian
  2. Kerja sama yang menghasilkan akomodasi
  3. Diferensiasi yang merupakan suatu proses yang menjadikan orang=perorangan dalam masyarakat memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berbeda dengan orang-orang lain dalam masyarakat atas dasar perbedaan usia,seks, dan pekerjaan yang menghasilkan pelapisan social.

Sedangkan menurut Gillin and Gillin bentuk-bentuk interaksi social sebagai proses social dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu proses social asosiatif dan proses social dissosiatif.

  1. PROSES SOSIAL YANG BERSIFAT ASSOSIATIF

Adalah proses social yang terjadi apabila individu-individu atau kelompok-kelompok yang melakukan interaksi memiliki kesamaan atau keserasian pandangan dan tindakan sehingga mengarah  pada kesatuan dan kerja sama. Proses ini disebut juga sebagai proses yang positif.

Bentuk-bentuk  proses assosiatif antara lain : kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

 

  1. Kerja sama (cooperation)

Kerja sama ialah usaha bersama antara dua individu atau dua kelompok untuk mencapai tujuan yang sama .

Kerja sama muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mereka mempunyai kesadaran untuk bekerja sama dalam mencapai kepentingan-kepentingan tersebut

kerja sama merupakan bentuk interaksi yang paling utama atau yang paling banyak dilakukan mulai dari kehidupan dalam keluarga, antar keluarga sampai pada kehidupan masyarakat luas.

Dilihat dari bentuknya kerja sama dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

  1. Kerja sama spontan(spontaneous cooperation)

Yaitu kerja sama yang timbul secara spontan

  1. Kerja sama langsung (directed cooperation)

Yaitu kerja sama yang terjadi karena adanya perintah atasan atau penguasa

  1. Kerja sama kontrak (contractual cooperation)

Yaitu kerja sama yang berlangsung atas dasar ketentuan tertentu yang disetjui bersama untuk jangka waktu tertentu

  1. Kerja sama tradisional (traditional cooperation)

Yaitu kerja sama yang terbentuk karena adanya system tradisi yang kondusif.kerja sama ini merupakan unsur-unsur  kerukunan dari system social

Kerja sama pada masyarakat sederhana seperti masyarakat komunal(kesukuan) dan masyarakat                pedesaan, pola kerja sama sudah melembaga hampir pada setiap pekerjaan yang bersifat missal,seperti berburu mengerjakan sawah, membuat jembatan, menyelenggarakan upacara adat dan lain-lain. Pola kerja sama pada masyarakat sederhana ini didorong oleh motivasi  untuk:

  1. Menghadapi tantangan alam yang masih keras
  2. Melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga missal
  3. Melaksanakan upacara yang sifatnya sacral (suci)
  4. Menghadapi serangan musuh dari luar

Berbeda dengan masyarakat kota yang sudah begitu kompleks struktur kemasyarakatannya, motivasi kerja samanya adalah :

  1. Memperoleh keuntungan ekonomis secara efektif dan efisien
  2. Untuk menghindari  persaingan bebas dibentuklah semacam assosiasi atau perserikatan
  3. Menggalang kesatuan dan persatuan bangsa dibidang bela Negara, cinta tanah air.

Kerja sama bisa bersifat konstruktif (membangun), bisa juga destruktif (merusak) atau bertujuan negative

Menurut James D.Thompson dan William J. Mc Ewen, ada lima bentuk kerja sama bila ditinjau dari pelaksanaannya yaitu :

  1. Kerukunan yang meliputi gotong royong dan tolong menolong
  2. Bargaining, yaitu kerja sama yang dilaksanakan atas dasar perjanjian tentang pertukaran barang-barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
  3. Kooptasi (cooptation) , yaitu suatu proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan
  4. Koalisi (coalition), yaitu kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama
  5. Joint-venture (usaha patungan), yaitu kerja sama yang dilaksanakan karena adanya pengusahaan proyek-proyek tertentu.

 

  1. Akomodasi (accommodation)

Akomodasi digunakan untuk menyebut suatu proses penyesuaian social dalam interaksiantarindividu dan antarkelompok untuk meredakan pertentangan.

Ada dua pengertian akomodasi yaitu :

  1. Akomodasi sebagi suatu keadaan, yaitu suatu kenyataan adanya keseimbangan (equilibrium) dalam berinteraksi yang dilandasi dengan norma-norma dan nilai-nilai social bersama.
  2. Akomodasi sebagai preses, yaitu usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dalam rangka mencapai keseimbangan/kestabilan.

Tujuan akomodasi :

  1. Mengurangi pertentangan
  2. Mencegah meledaknya pertentangan (konflik) yang mengarah pada benturan fisik
  3. Memungkinkan terjadinya kerja sama
  4. Mengupayakan terjadinya asimilasi (proses pembauran)

Bentuk bentuk akomodasi sebagai suatu proses,  antara lain sebagai berikut :

  1. Koersi (coercion)

Usaha meredakan pertentangan dengan cara paksaan. Biasanya paksaan dilakukan oleh pihak yang kuat atau mayoritas terhadap pihak yang lemah atau minoritas.

  1. Kompromi (compromise)

Bentuk akomodasi dimana kedua belah pihak saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian, karena semua pihak bersedia memahami keadaan pihak lain.

  1. Arbitrasi (arbitration)

Sering disebut perwasitan yaitu penyelesaian pertikaian atau konflik  dengan melibatkan pihak ketiga  yang dipilih oleh kedua belah pihak,  hal ini terjad karena pihak yang bertentangan tidak dapat menyelesaikan sendiri

  1. Mediasi (mediation)

Adalah bentuk akomodasi dengan hadirnya pihak ketiga sebagai mediator yang tidak memihak (netral) dalam menyelesaikan pertikaian. Pihak ketiga hanya sebagai penasehat atau tidak sebagai pengambil keputusan.

  1. Konsiliasi (consiliation)

Adalah usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih dalam perundingan  untuk mencapai penyelesaian masalah

  1. Toleransi (tolerance)

Yaitu bersikap saling menghormati dan menghargai pendirian masing-masing pihak

  1. Stalemate

Adalah bentuk akomodasi  dimana kedua belah pihak yang bertikai menghentikan sendiri pertikaian karena masing-masing memiliki kekuatan yang seimbang

  1. Ajudikasi (adjudication)

Yaitu penyelesaian konflik atau pertikaian melalui pengadilan atau meja hijau.

  1. Segregasi (segregation)

Adalah upaya penyelesaian pertentangan dengan cara saling memisahkan diri atau saling menghindar dalam rangka mengurangi ketegangan.

  1. Konversi (convertion)

Yaitu penyelesaian konflik dimana salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain

  1. Genjatan senjata (Cease fire)

Yaitu upaya penangguhan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai penyelesaian melalui perundingan

  1. Dispasement

Yaitu usaha menyelesaikan konflik dengan cara mengalihkan perhatian ke obyek lain.

  1. Keputusan mayoritas (majority deciation)

Yaitu suatu keputusan yang diambil dengan mengumpulkan suara terbanyak 

 

  1. Asimilasi (assimilation)

Adalah proses penyatuan dua pihak atau dua kelompok social yang berbeda kebudayaan dan menghasilkan kelompok social yang baru. Sebagai contoh adalah terbentuknya kelompok masyarakat indo pada zaman kolonial Belanda.

Asimilasi merupakan proses kearah peleburan kebudayaan sehingga masing-masing pihak merasa adanya kebudayaan tunggal sebagai miklik bersama.

Dalam proses asimilasi terlihat adanya usaha individu atau kelompok untuk bersama-sama dengan individu atau kelompok lain mengurangi perbedaan-perbedaan yang ada demi kepentingan bersama

 

Proses asimilasi dapat digambarkan sebagai berikut .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asimilasi akan terjadi apabila :

  1. Ada perbedaan kebudayaan antara kedua belah pihak
  2. Ada interaksi intensif antara kedua pihak
  3. Ada proses saling menyesuaikan

Factor-faktor pendukung dan penghambat terjadinya proses asimilasi sebagai berikut.

No

Faktor Pendukung Asimilasi

No

Faktor Penghambat Asimilasi

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

6

7

Adanya toleransi antar kebudayaan yang berbeda

Adanya kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi

Adanya sikap menghargai terhadap orang asing dan kebudayaannya

Adanya sikap terbuka dari golongan yang berkuasa

Adanya kesamaan dalam berbagai unsure budaya

Perkawinan campuran/algamasi

Adanya musuh bersama dari luar

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

6

7

Adanya isolasi kebudayaan dari salah satu kebudayaan kelompok

Minimnya pengetahuan tentang kebudayaan yang lain

Ketakutan atas kekuatan kebudayaan kelompok lain

Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaan sendiri

Adanya perbedaan cirri-ciri badaniah/ras yang mencolok

Adanya perasaan in-group yang kuat

Adanya perbedaan kepentingan

 

 

  1. AkulturasI (acculturation)  

Akulturasi atau culture contact (kontak kebudayaan) merupakan proses social yang timbul akibat suatu kebudayaan menerima unsure-unsur dari suatu kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.

Akulturasi merupakan perpaduan dua unsure kebudayaan dalam kurun waktu yang lama.

Dalam akulturasi unsure-unsur kebudayaan asing tersebut melebur kedalam kebudayaan asli, dengan tidak menghilangkan kepribadian kedua unsure kebudayaan tersebut.

Sebagai contoh , bertemunya kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan Hindu-Budha, yang tampak dari bentuk bangunan candi, arca, epos Ramayana atau Mahabarata dalam cerita wayang dll

 

Proses akulturasi dapat digambarkan sebagai berikut.

                                                      

 

 

 

BENTUK BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Bentuk –bentuk interaksi social adalah sebagai  proses soal , dimana Interaksi social atau proses social  selalu mewarnai kehidupan masyarakat .  

HampIr setiap hari manusia melakukan interaksi social. sifat dan bentuk interaksi social itu bermacam –macam .  Dalam pelaksanaannya , interaksi social atau proses social itu dapat bersifat positif maupun negatif.  

Proses social yang berjalan sehat dan positif akan menghasilkan kerja sama. Sementara itu, proses social yang berjalan tidak sehat dan negative akan menghasilkan konflik social.

Menurut Kimball Young bentuk-bentuk proses social meliputi:

  1. Oposisi yang mencakup persaingan dan pertentangan/ pertikaian
  2. Kerja sama yang menghasilkan akomodasi
  3. Diferensiasi yang merupakan suatu proses yang menjadikan orang=perorangan dalam masyarakat memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berbeda dengan orang-orang lain dalam masyarakat atas dasar perbedaan usia,seks, dan pekerjaan yang menghasilkan pelapisan social.

Sedangkan menurut Gillin and Gillin bentuk-bentuk interaksi social sebagai proses social dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu proses social asosiatif dan proses social dissosiatif.

  1. PROSES SOSIAL YANG BERSIFAT ASSOSIATIF

Adalah proses social yang terjadi apabila individu-individu atau kelompok-kelompok yang melakukan interaksi memiliki kesamaan atau keserasian pandangan dan tindakan sehingga mengarah  pada kesatuan dan kerja sama. Proses ini disebut juga sebagai proses yang positif.

Bentuk-bentuk  proses assosiatif antara lain : kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

 

  1. Kerja sama (cooperation)

Kerja sama ialah usaha bersama antara dua individu atau dua kelompok untuk mencapai tujuan yang sama .

Kerja sama muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mereka mempunyai kesadaran untuk bekerja sama dalam mencapai kepentingan-kepentingan tersebut

kerja sama merupakan bentuk interaksi yang paling utama atau yang paling banyak dilakukan mulai dari kehidupan dalam keluarga, antar keluarga sampai pada kehidupan masyarakat luas.

Dilihat dari bentuknya kerja sama dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

  1. Kerja sama spontan(spontaneous cooperation)

Yaitu kerja sama yang timbul secara spontan

  1. Kerja sama langsung (directed cooperation)

Yaitu kerja sama yang terjadi karena adanya perintah atasan atau penguasa

  1. Kerja sama kontrak (contractual cooperation)

Yaitu kerja sama yang berlangsung atas dasar ketentuan tertentu yang disetjui bersama untuk jangka waktu tertentu

  1. Kerja sama tradisional (traditional cooperation)

Yaitu kerja sama yang terbentuk karena adanya system tradisi yang kondusif.kerja sama ini merupakan unsur-unsur  kerukunan dari system social

Kerja sama pada masyarakat sederhana seperti masyarakat komunal(kesukuan) dan masyarakat                pedesaan, pola kerja sama sudah melembaga hampir pada setiap pekerjaan yang bersifat missal,seperti berburu mengerjakan sawah, membuat jembatan, menyelenggarakan upacara adat dan lain-lain. Pola kerja sama pada masyarakat sederhana ini didorong oleh motivasi  untuk:

  1. Menghadapi tantangan alam yang masih keras
  2. Melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga missal
  3. Melaksanakan upacara yang sifatnya sacral (suci)
  4. Menghadapi serangan musuh dari luar

Berbeda dengan masyarakat kota yang sudah begitu kompleks struktur kemasyarakatannya, motivasi kerja samanya adalah :

  1. Memperoleh keuntungan ekonomis secara efektif dan efisien
  2. Untuk menghindari  persaingan bebas dibentuklah semacam assosiasi atau perserikatan
  3. Menggalang kesatuan dan persatuan bangsa dibidang bela Negara, cinta tanah air.

Kerja sama bisa bersifat konstruktif (membangun), bisa juga destruktif (merusak) atau bertujuan negative

Menurut James D.Thompson dan William J. Mc Ewen, ada lima bentuk kerja sama bila ditinjau dari pelaksanaannya yaitu :

  1. Kerukunan yang meliputi gotong royong dan tolong menolong
  2. Bargaining, yaitu kerja sama yang dilaksanakan atas dasar perjanjian tentang pertukaran barang-barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
  3. Kooptasi (cooptation) , yaitu suatu proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan
  4. Koalisi (coalition), yaitu kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama
  5. Joint-venture (usaha patungan), yaitu kerja sama yang dilaksanakan karena adanya pengusahaan proyek-proyek tertentu.

 

  1. Akomodasi (accommodation)

Akomodasi digunakan untuk menyebut suatu proses penyesuaian social dalam interaksiantarindividu dan antarkelompok untuk meredakan pertentangan.

Ada dua pengertian akomodasi yaitu :

  1. Akomodasi sebagi suatu keadaan, yaitu suatu kenyataan adanya keseimbangan (equilibrium) dalam berinteraksi yang dilandasi dengan norma-norma dan nilai-nilai social bersama.
  2. Akomodasi sebagai preses, yaitu usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dalam rangka mencapai keseimbangan/kestabilan.

Tujuan akomodasi :

  1. Mengurangi pertentangan
  2. Mencegah meledaknya pertentangan (konflik) yang mengarah pada benturan fisik
  3. Memungkinkan terjadinya kerja sama
  4. Mengupayakan terjadinya asimilasi (proses pembauran)

Bentuk bentuk akomodasi sebagai suatu proses,  antara lain sebagai berikut :

  1. Koersi (coercion)

Usaha meredakan pertentangan dengan cara paksaan. Biasanya paksaan dilakukan oleh pihak yang kuat atau mayoritas terhadap pihak yang lemah atau minoritas.

  1. Kompromi (compromise)

Bentuk akomodasi dimana kedua belah pihak saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian, karena semua pihak bersedia memahami keadaan pihak lain.

  1. Arbitrasi (arbitration)

Sering disebut perwasitan yaitu penyelesaian pertikaian atau konflik  dengan melibatkan pihak ketiga  yang dipilih oleh kedua belah pihak,  hal ini terjad karena pihak yang bertentangan tidak dapat menyelesaikan sendiri

  1. Mediasi (mediation)

Adalah bentuk akomodasi dengan hadirnya pihak ketiga sebagai mediator yang tidak memihak (netral) dalam menyelesaikan pertikaian. Pihak ketiga hanya sebagai penasehat atau tidak sebagai pengambil keputusan.

  1. Konsiliasi (consiliation)

Adalah usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih dalam perundingan  untuk mencapai penyelesaian masalah

  1. Toleransi (tolerance)

Yaitu bersikap saling menghormati dan menghargai pendirian masing-masing pihak

  1. Stalemate

Adalah bentuk akomodasi  dimana kedua belah pihak yang bertikai menghentikan sendiri pertikaian karena masing-masing memiliki kekuatan yang seimbang

  1. Ajudikasi (adjudication)

Yaitu penyelesaian konflik atau pertikaian melalui pengadilan atau meja hijau.

  1. Segregasi (segregation)

Adalah upaya penyelesaian pertentangan dengan cara saling memisahkan diri atau saling menghindar dalam rangka mengurangi ketegangan.

  1. Konversi (convertion)

Yaitu penyelesaian konflik dimana salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain

  1. Genjatan senjata (Cease fire)

Yaitu upaya penangguhan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai penyelesaian melalui perundingan

  1. Dispasement

Yaitu usaha menyelesaikan konflik dengan cara mengalihkan perhatian ke obyek lain.

  1. Keputusan mayoritas (majority deciation)

Yaitu suatu keputusan yang diambil dengan mengumpulkan suara terbanyak 

 

  1. Asimilasi (assimilation)

Adalah proses penyatuan dua pihak atau dua kelompok social yang berbeda kebudayaan dan menghasilkan kelompok social yang baru. Sebagai contoh adalah terbentuknya kelompok masyarakat indo pada zaman kolonial Belanda.

Asimilasi merupakan proses kearah peleburan kebudayaan sehingga masing-masing pihak merasa adanya kebudayaan tunggal sebagai miklik bersama.

Dalam proses asimilasi terlihat adanya usaha individu atau kelompok untuk bersama-sama dengan individu atau kelompok lain mengurangi perbedaan-perbedaan yang ada demi kepentingan bersama

 

Proses asimilasi dapat digambarkan sebagai berikut .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asimilasi akan terjadi apabila :

  1. Ada perbedaan kebudayaan antara kedua belah pihak
  2. Ada interaksi intensif antara kedua pihak
  3. Ada proses saling menyesuaikan

Factor-faktor pendukung dan penghambat terjadinya proses asimilasi sebagai berikut.

No

Faktor Pendukung Asimilasi

No

Faktor Penghambat Asimilasi

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

6

7

Adanya toleransi antar kebudayaan yang berbeda

Adanya kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi

Adanya sikap menghargai terhadap orang asing dan kebudayaannya

Adanya sikap terbuka dari golongan yang berkuasa

Adanya kesamaan dalam berbagai unsure budaya

Perkawinan campuran/algamasi

Adanya musuh bersama dari luar

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

6

7

Adanya isolasi kebudayaan dari salah satu kebudayaan kelompok

Minimnya pengetahuan tentang kebudayaan yang lain

Ketakutan atas kekuatan kebudayaan kelompok lain

Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaan sendiri

Adanya perbedaan cirri-ciri badaniah/ras yang mencolok

Adanya perasaan in-group yang kuat

Adanya perbedaan kepentingan

 

 

  1. AkulturasI (acculturation)  

Akulturasi atau culture contact (kontak kebudayaan) merupakan proses social yang timbul akibat suatu kebudayaan menerima unsure-unsur dari suatu kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.

Akulturasi merupakan perpaduan dua unsure kebudayaan dalam kurun waktu yang lama.

Dalam akulturasi unsure-unsur kebudayaan asing tersebut melebur kedalam kebudayaan asli, dengan tidak menghilangkan kepribadian kedua unsure kebudayaan tersebut.

Sebagai contoh , bertemunya kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan Hindu-Budha, yang tampak dari bentuk bangunan candi, arca, epos Ramayana atau Mahabarata dalam cerita wayang dll

 

Proses akulturasi dapat digambarkan sebagai berikut.

                                                      

 

 

 

 

                

 

                

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.